Sabtu, 13 Desember 2025

Asal usul aksara jawa

 Konon ceritanya dalam legenda ada tokoh bernama Ajisaka. Ia mempunyai dua orang abdi bernama Dora dan Sembada. Ajisaka menitipkan pusaka berupa keris kepada Sembada yang harus dijaga dengan baik, tidak boleh ada orang yang akan ngambil kecuali Ajisaka sendiri. Sembada patuh dan setia dengan tugas tersebut. Suatu hari Ajisaka mengutus Dora untuk mengambil keris tersebut dari tempat Sambada, tentu karena sangat setia dan takut keris tidak diberikan kepada Dora. Terjadilah perselisihan dan perang antar sesama abdi tersebut. Keduanya sama-sama sakti dan keduanya sama-sama mati dalam perkelahian itu. Mengetahui hal tersebut Ajisaka sangat menyesal satu sisi ia memuji kesetiaan Sembada sisi lain ia mengutus Dora untuk mengambil keris. Dora dan Sembada tidak ada yang mau mengalah karena merasa benar. Maka untuk menghormati kedua abdinya itu Ajisaka menuliskan aksara Jawa itu dengan cerita kematian di abdinya. 

1.ha na ca ra ka  

Artinya ana utusan atau orang yang diberi tugas atau mandhat.

2.da ta sa wa la   

Artinya ana kekerengan atau perkelahian

3.pa dha ja ya nya 

Artinya padha digdayane atau sama-sama ampuh.

4. ma ga ba tha nga

Artinya  padha dadi bathang atau keduanya mati, bathang itu mayat

Nilai filosofi yang dapat diambil dari sini adalah nilai kesetiaan dan pengabdian. Amanah yang diberikan baik dari Tuhan, dari masyarakat dan orang tua harus dijaga dengan baik dan tidak tergoyahkan oleh pengaruh apapun walaupun sampai harus mati. 

Kamis, 16 Oktober 2025

HPS

 Hari Pangan Sedunia (HPS) diperingati setiap tanggal 16 Oktober. Makan merupakan hak dasar bagi setiap orang untuk bisa bertahan hidup, semua orang berhak mendapatkan makanan, oleh karena itu persediaan pangan menjadi penting.

Peringatan HPS dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran global tentang masalah ketahanan pangan, kemiskinan, kelaparan serta mengajak semua pihak untuk mewujudkan sistem pangan yang adil, berkelanjutan dan sehat.

Berbagai organisasi, lembaga, komunitas masyarakat hendaknya bergerak bersama untuk menciptakan sistem ketahanan pangan yang tangguh, berdaya, dan berkualitas. Gerakan ini harus nyata, tidak sekedar seremonial belaka, tidak sebatas 'lomba' pengolahan pangan, pameran produk pangan tetapi juga perlu informasi terutama kalangan masyarakat bawah tentang bagaimana membudidayakan macam macam bahan pangan non beras.  Tidak bisa dipungkiri pemahaman masyarakat bahwa makanan pokok kita  adalah hanya dari beras. 

Yang sangat memprihatinkan di desa-desa sudah banyak alih fungsi lahan. Lahan pertanian sudah menjadi hutan tanaman industri sepert pohon sengon, Jabon, jati dan mahoni. Padahal dulu menjadi andalan sumber pangan kita. Masyarakat umumnya berkebun dan bertani. Generasi muda tidak lagi bertekun dalam bertani dan berkebun, seiring dengan ini anak anak muda yang berpendidikan lebih senang pergi merantau mencari kerja di kota, karena di desa tidak ada lapangan kerja yang bisa menampung mereka.

Dalam rangka peringatan HPS ini adalah kesempatan yang baik untuk meningkatkan kesadaran masyarakat perlunya memikirkan dan mencari jalan atau cara yang tepat untuk mewujudkan ketahanan pangan di wilayah masing-masing. Melalui gerakan pangan lokal diharapkan masyarakat dapat bertahan hidup dalam situasi sulit pangan. 

Secara naluri semua makluk hidup sudah diberi kemampuan untuk menopang hidupnya sendiri, termasuk manusia. Bedanya dengan makluk lain manusia diberi akal Budi untuk merencanakan dan mengusahakan semua yang diberikan oleh alam untuk memenuhi kebutuhannya. Selain menyediakan pangan alami Tuhan Allah juga menyediakan obat-obatan di alam entah dari tumbuhan atau binatang supaya manusia tetap sehat secara alami. Secara kesehatan/ media dikatakan agar manusia sehat perlu asupan gizi seimbang baik dari nabati maupun hewani.

Marilah kita hidup sehat, manfaatkan tanaman pangan yang telah disediakan alam termasuk tanaman yang berkhasiat untuk kesehatan dan kebugaran. Kurangi pangan instan dan obat kimiawi, olahraga teratur dan yang pasti tetap bersyukur kepada Sang Pencipta. Semoga bermanfaat, Berkah Dalem. (Sarjana Ambrusius).

Minggu, 12 Oktober 2025

KELOLA SAMPAH DAPUR

    Sampah sering dipandang sebagai barang yang tak berguna oleh sebagian besar masyarakat, bahkan sering menjadi masalah

Marilah kita berpikir bagaimana agar sampah-sampah tersebut dapat bermanfaat atau dapat didaur ulang menjadi barang yang baru sekaligus ikut berpartisipasi dalam gerakan "merawat bumi".

Solusi pertama kita pisahkan jenis sampah tersebut, sampah jenis organik ( berasal dari jenis tumbuhan) dan anorganik(berasal dari partikel plastik, kaca dan sebagainya). Mulailah tidak membuang sampah di 'pawuhan' (jw.tempat uwuh).

Sampah organik dapat kita olah menjadi kompos untuk pupuk dan media taman di pot. Sedangkan sampah anorganik dapat dijual ke pengumpul yang nantinya akan mereka jual sebagai bahan baku daur ulang menjadi barang-barang yang bermanfaat.

Mari kita membuat kompos dari sampah dapur. Bahan utama sampah dapur sisa buah dan sayuran dan dedaunan. Bahan tambahan  garam, gula(bisa diganti molase/ tetes tebu) dan EM4, serta air hujan. Boleh juga ditambah dengan cangkang telur dan humus daun-daun busuk di bawah pohon bambu bisa juga ditambah kotoran hewan.

Proses : kita cacah lembut sisa-sisa sampah dapur, kita siapkan bahan lain dan wadah yang bisa ditutup untuk menampung, misalnya ember plastik. Masukkan semua bahan ke dalam wadah dan siram dengan air yang sudah dicampur dengan sedikit garam,gula dan em4(untuk tanaman warna kuning) kemudian tutup rapat, biarkan kurang lebih 1 bulan maka kompos sudah siap digunakan. Mari mencoba.